Senin, 19 November 2018

LAPORAN TUTORIAL II (NERVUS AND MUSCULOSKELETAL SYSTEM) OSTEOATRITIS


LAPORAN TUTORIAL II
(NERVUS AND MUSCULOSKELETAL SYSTEM)

Fasilitator: Rosnita Cici J Idu , S.Kep., Ns
LNO: Saktya Yudha Ardhi Utama, S.Kep.,Ns.,M.Kep
OLEH :
1.          AFFIFAH ARI NIMAH                              (160100753)
2.          AHMAD SAID                                              (160100757)
3.          ANGEL CLAUDIA VALENSYA             (160100759)
4.          AYUDYA HYGEA BREANI                     (160100766)
5.          BETY AYU SAFITRI                                 (160100768)
6.          DEVI ALFIANI                                            (160100772)
7.          DWI PRABOWO SUSANTO                     ( 160100775)
8.          FIKI AJI NURCAHYATI                           (160100779)
9.          HENI LESTARI                                           (160100785)
10.      IDHAM KHALID                                        (160100787)
11.      IKA BELA APRILIA                                  (160100788)
12.      LAELATUZZAKIYAH                              (160100794)   

BLOCK NURSING 4
(NERVUS AND MUSCULOSKELETAL SYSTEM)
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
2018


KASUS TUTORIAL II
SCENARIO 2
Perempuan berusia 67 tahun dirawat dengan keluhan nyeri dan kaku pada lutut kiri sejak 6 bulan yang lalu terutama di pagi hari, nyeri semakin parah dan disertai dengan pembengkakan. Nyeri tidak menghilang saat dikompres. Pada pemeriksaan ekstremitas didapatkan edema pada genu sinistra. Pitting (+), kemerahan (+), tofus lateralankle dextra (+), massa pada suprapatella sinistra (+) ukuran 3cm x 2cm, benjolan mobile permukaan rata, undulasi (+), nyeri tekan pada masa pada suprapatella sinistra (+), krepitasi (+) pada genu sinistra. Foto rontgen ditemukan adanya gambaran osteofit. Hasil pemeriksaan cairan sendi didapatkan warna kuning, bekuan positif, sedangkan kristal, eritrosit, dan darah negatif. Jumlah sel 8-10.
STEP 1 (Kata Sulit)
1.      Osteofit
2.      Genu sinistra
3.      Krepitasi
4.      Benjolan mobile
5.      Undulasi
6.      Tofus
7.      Pitting
8.      Pembengkakan
9.      Suprapatella
Jawaban
1.      Tulang yang tumbuh menonjol kearah luar tubuh yang muncul ditempat pertemuan dua tulang.
2.      Genu sinistra: sendi lutut disebelah kiri.
3.      a. Suara-suara yang dihasilkan dari gesekan-gesekan tulang sendi
b. terdapat bunyi krek-krek
c. gesekan antar tulang akibat patah tulang.
4.      Adanya benjolan yang tidak stabil dan dapat berpindah.
5.      a. Gelembung udara yang ada pada selang untuk mengeluarkan cairan pada tubuh.
Contoh: WSD.
b. gerakan pada cairan seperti denyutan.
6.      Tofus: kristal yang terbentuk dari asam urat.
7.      Pitting: a. Cekungan/ lekukan
 b. edema yang tetap cekung apabila terdapat tekanan dengan ujung jari
8.      a. Bertambahnya ukuran tidak seperti normalnya (abnormal)
b. terjadi akibat inflamasi
c. suatu tanda dari penyakit pada lutut akibat peradangan.
9.      Suprapatella: lutut bagian atas.

STEP 2
1.      Apa penyakit yang ditimbulkan?
2.      Etiologi penyakit?
3.      Faktor resiko penyakit?
4.      Apa komplikasi yang dapat terjadi?
5.      Apa pemeriksaan penunjang yang dilakukan?
6.      Apa terapi farmakologi yang dapat diberikan dari kasus tersebut?
7.      Apa terapi non-farmakologi yang dapat diberikan dari kasus tersebut?
8.      Apa penyebab dari nyeri dan kaku lutut?
9.      Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menangani nyeri?
10.  Apa indikasi dan kontraindikasi yang dilakukan pada penyakit dalam kasus?
11.  Bagaimana pencegahan penyakit pada kasus tersebut?
12.  Bagaimana awal terjadinya edema pada genu sinistra dan pitting (+)?
13.  Apa warna normal cairan sendi dan mengapa ada bekuan positif?
14.  Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus?
STEP 3
1.      Penyakit Osteoarthritis, karena pada kasus terdapat ciri-ciri seperti nyeri, pembengkakan, pitting (+), adanya gambaran osteofit pada foto rontgen, dan adanya cairan warna kuning pada saat pemeriksaan.
2.      Etiologi :         a. Usia
b. Infeksi virus/ bakteri
c. Obesitas
d. Genetik
e. Pola makan dan gaya hidup
f. Jenis pekerjaan
g. Alergi (dingin)
h. Trauma/ cidera saat beraktivitas
3.      Faktor resiko :
a. Usia lebih dari 50 tahun
b. Jenis pekerjaan (mempengaruhi tingkat kekuatan otot yang lebih)
c. Aktivitas fisik
d. Jenis kelamin (wanita rentan terkena lebih besar jika melakukan aktivitas berat misalnya pekerjaan rumah tanggga)
4.      Komplikasi:     a. Susah bergerak dan kekakuan otot
b. Resiko jatuh
c. Resiko patah tulang
d. Masa otot berkurang
e. Kelumpuhan
f. Nyeri hebat dan krepitasi.
5.      Pemeriksaan Penunjang dapat berupa:
a. CT Scan dan MRI
b. Tes darah (menentukan adanya infeksi)
c. Pemeriksaan fisik
d. Pemeriksaan rontgen dan radiologi.
6.      Terapi farmakologi yang dapat diberikan berupa:
a. Macam-macam obat analgesik dan anti inflamasi
b. Suntikan kortikosteroid
c. PRP (Platelet Rich Plasma untuk peradangan)
7.      Terapi non-farmakologi yang dapat diberikan:
a. Perubahan gaya hidup
b. Terapi fisik untuk melatih kekuatan otot sendi (fisioterapi)
c. Mengurangi berat badan untuk obesitas
d. Memperbanyak mengkonsumsi kalium pada buah dan sayur (misalnya, buah pisang)
e. Memperbanyak minum air putih
f. Menggunakan alat bantu untuk mengurangi rasa nyeri
g. Terapi pemanas (kompres air hangat)
8.      Penyebab dari nyeri  yaitu  karena adanya osteofit sedangkan dari kaku di lutut karena gerakan lutut sedikit karena menahan rasa nyeri.
9.      Tindakan untuk menangani nyeri:
a. Mengkonsumsi obat analgesik
b. Kompres air hangat
c. Menggunakan alat bantu
d. Mengkaji nyeri
f. Terapi tekhnik relaksasi nafas dalam
g. Mengurangi aktivitas fisik yang berat.
10.  a. Indikasi : latihan gerak dengan alat bantu
b. Kontraindikasi : - melakukan tindakan/ pekerjaan yang berat
- tidak mengkonsumsi obat yang dapat menyebabkan pengeroposan tualng dan sendi
11.  Pencegahan dari penyakit osteoartrithis yaitu:
a. Mengurangi makanan yang tinggi purin
b. Olahraga teratur
c. Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C dan D
d. Menurunkan berat badan bagi yang obesitas
12.  Terjadi edema karena adanya peradangan dan pengumpulan cairan didalam sendi.
13.  a. Warna normal putih bening, karena adanya infeksi dan cairan yang berada tidak pada tempatnya sehingga terjadinya pembekuan tersebut.
14.  Masalah keperawatan yang muncul:
a. Gangguan rasa nyaman b.d agen cidera biologis
b. Gangguan mobilitas fisik
c. Resiko infeksi




STEP 4
OSTEOARTHRITIS
 
MIND MAPPING
ASKEP
 
TERAPI
 








STEP 5
LO
1.      Faktor resiko dari Osteoarthritis



A.    Konsep
1.      Definisi
Osteoatritis adalah penyakit peradangan sendi yang muncul pada usia lanjut , penyakit ini jarang di jumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering di jumpai pada usia 60 tahun keatas.sehingga akan terjadi gangguan pada sendi  anggota gerak (price dan wilson, 2013).
Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti tulang, arthro yang berarti sendi, dan itis yang berarti inflamasi meskipun sebenarnya penderita osteoartritis tidak mengalami inflamasi atau hanya mengalami inflamasi ringan (Koentjoro, 2010).
Osteoarthritis  suatu penyakit sendi menahun yang ditandai oleh adanya kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya. Tulang rawan (kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi ujung dari tulang, untuk memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan pada kartilago akan berakibat tulang bergesekan satu sama lain, sehingga timbul gejala kekakuan, nyeri dan pembatasan gerakan pada sendi (Nur, 2009).
Osteoartrithis adalah kelainan sendi kronis yang disebabkan karena ketidakseimbangan sistesis dan degradasi pada sendi kondrosit serta tulang subkondral pada usia tua (Sjamsuhidayat et.al 2011)
2.      Etiologi
Berdasarkan etiopatogenesisnya OA dibagi menjadi dua, yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatikyang mana penyebabnya tidak diketahui dan tidak ada hubunganya dengan penyakit sistemik, inflamasi ataupun perubahan lokal pada sendi, sedangkan OA sekundermerupakan OA yang ditengarai oleh faktor-faktor seperti penggunaan sendi yang berlebihan dalam aktifitas kerja, olahraga berat, adanya cedera sebelumnya, penyakit sistemik, inflamasi. OA primer lebih banyak ditemukan daripada OA sekunder (Davey, 2006).
A.    Umur
Umumnya ditemukan pada usia lanjut ( di atas 50 tahun ),oleh karena pada orang lanjut usia pembentukankondroitin sulfat yang merupakan substansi dasar tulang rawan berkurang dan dapat terjadi fibrosis tulangrawan.
B.     Jenis kelamin
Kelainan ini dapat ditemukan baik pada pria maupun wanita dimana osteoarthritis primer lebih banyakditemukan pada wanita pascamenopause sedangkan osteoarthritis sekunder lebih banyak ditemukan pada laki- laki.
C.     Kepadatan tulang
D.    Obesitas
E.     Penggunaan aktivits sendi yang berlebihan saat bekerja atau aktivitas
F.      Olahraga berat 
G.    Riwayat keluarga /keturunan
H.    Cidera sendi
I.       Adanya penyakit lain:asam urat reumaticatritis
3.      Manifestasi klinis
Menurut Sudoyono 2009
1)      Kekakuan dari persendian setelah bangundari tidur atau duduk dalam keadaan yang lama. Kebanyakan penderita mengeluh kaku setelah berdiam pada posisi tertentu. Kaku biasanya kurang dari 30 menit. 
2)      Bengkak pada satu atau lebih persendian
Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh radang sendi dan bertambahnya cairan sendi atau keduanya. 
3)      Kemerahan pada daerah sendi
Kemerahan pada sendi merupakan salah satu tanda peradangan sendi. Hal ini mungkin dijumpai pada osteoarthritis karena adanya sinovitis, dan biasanya tanda kemerahan ini tidak menonjol dan timbul belakangan.
4)      Terdengar bunyi krepitasiketika persendian digerakkan
5)      Nyeri
Nyeri sendi bertambah dikarenakan gerakan dan sedikit berkurang bila istirahat. Pada gerakan tertentu (misal lutut digerakkan ke tengah) menimbulkan rasa nyeri. Nyeri pada osteoarthritis dapat menjalar kebagian lain, misal osteoarthritis pinggang menimbulkan nyeri betis yang disebut sebagai “claudicatio intermitten”. Korelasi antara nyeri dan tingkat perubahan struktur pada osteoarthritis sering ditemukan pada panggul, lutut dan jarang pada tangan dan sendi apofise spinalis.  
6)      Hambatan gerakan sendi (inability to move a joint) 
 Hambatan gerak ini disebabkan oleh nyeri, inflamasi, sendi membengkok, perubahan bentuk. Hambatan gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari kursi, bangun dari tempat berbaring, menulis atau berjalan. Semua gangguan aktivitas tergantung pada lokasi dan beratnya kelainan sendi yang terkena.
7)      Perubahan cara berjalan atau hambatan gerak
Hambatan gerak atau perubahan cara berjalan akan berkembang sesuai dengan beratnya penyakit. Perubahan yang terjadi dapat konsentris atau seluruh arah gerakan maupun eksentris atau salah satu gerakan saja
4.      Komplikasi
a)      Gangguan /kesulitan gerak
b)      Kelumpuhan yang menurunkan kualitas  hidup penderita
c)      Resiko jatuh
d)     Patah tulang
e)      Osteonekrosis: kematian sendi
f)       Ruptur Baker Cyst
g)      Bursitis
Pembengkakan atau pearadangan yang terjadi pada bursa, kantong berisi cairan pelumas yang terletak disekitaran sendi yang berfungsi sebagai bantalan untuk mengguragi gesekan atau iritasi
5.      Patofisiologi
Perkembangan osteoarthritis terbagi atas tiga fase, yaitu sebagai berikut:
1.      Fase 1
Terjadi penguraian proteolitik pada matrik kartilago. Metabolismekondrosit menjadi terpangaruh dan meningkatkan produksi enzim seperti metalloproteinases yang kemudian hancur dalam matriks kartilago. Kondrosit juga memproduksi penghambat protease yang akan mempengaruhi proteolitik. Kondisi ini memberikan manifestasi pada penipisan kartilago.
2.      Fase 2
Pada fase ini terjadi fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, disertai adanya pelepasan proteoglikan dan fragmen kolagen ke dalam cairan sinovia.
3.      Fase 3
Proses penguaraian dari produk kartilago yang menginduksi respon inflamasi pada sinovia. Produksi makrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL 1), tumor necrosis factor-alpha (TNFα), dan metalloproteinases menjadi meningkat. Kondisi ini memberikan manifestasi balik pada kartilago dan secara langsung memberikan dampak destruksi pada kartilago. Molekul-molekul pro-inflamasi lainnya seperti nitric oxide (NO) juga terlibat. Kondisi ini memberikan manifestasi perubahan arsitektur sendi, dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan tulang akibat stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi dan stres inflamasi memberikan pengaruh pada permukaan artikular menjadikan kondisi gangguan yang progresif(Helmi, 2012)
6.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan radiografi pada sendi akan memberikan gambaran diagnostik
Penyempitan celah sendi yang asimetris
Osteofitpada pinggir tulang
Perubahan struktrur anatomi sendi
b.      Bone Scanning
Metode ini mungkin membantu dalam diagnosis awal osteoarthritis tangan. Selain itu, metode ini juga dapat membantu membedakan osteoarthritis dari osteomyelitis dan metastase tulang (Lozada, 2013).
c.       Arthrocentesis
Kehadiran cairan sendi peradangan membantu membedakan osteoarthritis dari penyebab lain dari nyeri sendi. Selain temuancairan sinovial yang membantu dalam diferensiasi osteoarthritis dari kondisi lain adalah adanya gram negatif serta tidak adanya kristal ketika dilihat dibawah mikroskop (Lozada, 2013).
7.      Terapi farmakologi
Menurut Elin dkk, 2008:
A.    Nonsteroididal anti inflamatory drugs (NSAID) yaitu obat yang digunakan untuk menggurangi nyeri dan peradangan pada sendi. Contoh : ibuprofen, aspirin
B.     Analgetik . contoh: tramadol
C.     Obat relaksasi otot
D.    Injeksi glukokortikoid intraartikular
E.     Kortikosteroid
Kortikosteroid berfungsi sebagai anti inflamasi dan digunakan dalam dosis yang beragam untuk berbagai penyakit dan beragam individu, agar dapat dijamin rasio manafaat dan risiko setinggi tingginya. Kortikosteroid sering diberikan dalam bentuk injeksi intra-artikular dibandingkan dengan penggunaan oral. 
F.      Suplemen makanan
Pemberian suplemen makanan yang mengandung glukosamin, kondroitin yang berdasarkan uji klinik dapat mengurangi gangguan sendi atau mengurangi simptom osteoarthritis (Priyanto, 2008). Suplemen makanan ini dapat digunakan sebagai obat tambahan pada penderita osteoarthritis terutamanya diberikan pada pasien lanjut usia.
G.    ChondroprotectiveAgent
Chondroprotective Agent adalah obat–obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan dari kartilago pada pasien OA. Obat–obatan yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya (Felson, 2006).
§  Tetrasiklin dan derivatnya, contohnya doxycycline, mampu menghambat kerja enzim MMP. Obat ini baru dipakai pada hewan, belum dipakai pada manusia.
§  Asam hialuronat disebut viscosupplement karena dapat memperbaiki viskositas cairan sinovial. Obat ini diberikan secara intraartikular. Asam hialuronat berperan penting dalam pembentukan matriks tulang rawan melalui agregasi dengan proteoglikan.Pada binatang percobaan, obat ini dapat mengurangi inflamasi pada sinovium, menghambat angiogenesis dan kemotaksis sel-sel inflamasi.
§  Glikosaminoglikan dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam degradasi tulang rawan dan merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan sendi manusia.
§  Kondroitin sulfat, merupakan bagian dari proteoglikan pada tulang rawan sendi. Tulang rawan sendi terdiri atas 2% sel dan 98% matriks ekstraseluler yang terdiri dari kolagen dan proteoglikan. Matriks ini membentuk struktur yang utuh sehingga mampu menahan beban tubuh. Pada penyakit sendi degeneratif seperti OA terjadi kerusakan tulang rawan sendi dan salah satu penyebabnya adalah hilangnya atau berkurangnya proteoglikan. Efektivitas kondroitin sulfat melalui 3 mekanisme utama, yaitu anti inflamasi, efek metabolik terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan serta anti degradatif melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat efek oksigen reaktif.
§  Vitamin C, dapat menghambat aktivitas enzim lisozim. Dalam penelitian ternyata bermanfaat dalam terapi OA.

8.      Terapi Non farmakologi
1)      Dilarang naik turun tangga
2)      Dilarang angkat beban berat
3)      Lakukan diet sehat
4)      Turunkan berat badan  bagi yang obesitas
5)      Istirahat yang cukup untuk menurunkan kesakitan pada sendi  dan menghindari trauma sendiri secara berulang
6)      Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas.Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometrik lebih baik dari pada isotonik karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
7)      Olahraga mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami osteoarthritis ringan sampai sedang
8)      Terapi fisik, meliputi rentang pergerakan pasif dan latihan air, dapat memperbaiki fungsi persendian









Penuaan
 
Penurunan flesibilitas sendi
 
Ketidakseimbangan permukaan tulang
 
Pertumbuhan tulang tak normal
 
Pertumbuhan tulang  melewati batas sendi
 
Kartilago menjadi kuning
 
Text Box: MK: Resiko jatuh
Kelemahan
 
Penurunan kekuatan
 
Text Box: MK: Hambatan mobilitas fisik
Gerakan akibat aktivitas
 
Perubahan fungsi sendi
 
Kontraktur
 
Text Box: MK: Nyeri
Penyempitan rongga sendi
 
Serat kolagen pecah
 
Fibrilasi ,erosi dan keretakan kartilago
 
Text Box: MK: Gangguan citra tubuh
Deformitas sendi
 
OSTEOARTRITHIS
 
Penurunan kompresif kartilago
 
Degradasi matrik kartilago
 
Penurunan cairan sinovial
 
Penuruna  jumlah kondrosit
 
Perubahan komposisi  kartilago
 
Penurunan konsentrasi  Proteoglikan
 
Peluruhan jaringan kolagen
 
Faktor Resiko: Obseitas , jenis kelamin,trauma,infeksi,riwayat penyakit sendi 
 
PATHWAY

















1.      Asuhan Keperawatan
A.    Analisis Data

No.
Analisa Data
Diagnosa Keperawatan
Etiologi
1.
DS :
 - Pasien mengeluh nyeri dan kaku pada lutut kiri sejak  bulan yang lalu.
- pasien mengatakan nyeri semakin parah di pagi hari dan disertai pembengkakan
- pasien mengatakan nyeri tidak hilang saat dikompres

DO :
 - Edema pad grnu sinistra (+)
- Terdapat massa pada suprapatella sinistra (3cmx 2cm)
- Adanya nyeri tekan pada suprapatella sinistra.
Nyeri kronis
Penyakit (Osteoathritis)
2.
DS:
Pasien meneluh kaku pada lutut kiri dan nyeri disertai bengkak

DO:
-Edema di genu sinistra(+)
-Massa pada suprapattela sinistra(+) ukuran 3-2cm
-Nyeri tekan pada massa suprapattela

Resiko jatuh
Usia > 65 tahun
3.
DS :- pasien meneluh kaku pada lutut kiri
DO :- terdapat krepitasi
- cairan sndi didapatkan warna kuning
-  terdapat edema pada genu sinistra
Hambatan mobilitas fisik
Kerusakan integritas struktur tulang
4
DS :
- pasien mengatakan adanya pembengkakan pada lutut kiri

DO:
-Terdapat undulasi
-Edema di genu sinistra(+)
-Massa pada suprapattela sinistra(+) ukuran 3-2cm
-Kemerahan tofus lateral ankle dextra(+)





Gangguan citra tubuh
Penyakit (Osteoathritis)






























B.     Rencana Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Nursing Outcome (NOC)
Nursing Intervention (NIC)
1





































Nyeri kronis b.d penyakit (Osteoathritis)






























Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah nyeri kronis dapat teratasi dengan kriteria hasil:

Kontrol Nyeri 1605

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
Mengenali kapan nyeri terjadi
4
2
Menggambarkan faktor penyebab
4
2
Menggunakan tindakan pencegahan
4
2
Menggunakan analgesik yang direkomendasikan
4
2
Mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri
4
2
Melaporkan nyeri yang terkontrol
4
2


Status kenyamanan fisik 2010

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
Kontrol terhadap gejala
2
4
Kesejahteraan fisik
2
4
Relaksasi otot
2
4
Posisi yang nyaman
2
4
Manjemen Nyeri 1400

·         Monitor TTV
·         Kaji nyeri komprehensif yang meliputi lokasi,karakteristik, onset/durasi,frekuensi,kualitas,intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus.
·         Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeri.
·         Berikan informasi nyeri mengenai nyeri,seperti penyebabnyeri,berapa lama nyeri akan dirasakan dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur.
·         Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.

Pengaturan Posisi 0840
·         Tempatkan pasien diatas matras/ tempat tidur terapeutik
·         Tempatkan pasien dalam posisi terapeutik yang sudah dirancang
·         Masukkan posisi tidur yang diinginkan kedalam rencana perawatan jika tidak ada kontraindikasi
·         Imobilisasi atau sokong bagian tubuh yang terkena dampak dengan tepat
·         Dorong latihan ROM aktif dan pasif
·         Jangan menempatkan pasien pada posisi yang bisa meningkatkan nyeri


2
Resiko jatuh b.d  Usia > 65 tahun







































Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah resiko jatuh dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Keseimbangan 0202

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
Mempertahankan keseimbangan saat duduk tanpa sokongan pada punggung
2
4
Mempertahankan keseimbangan dari posisi duduk ke posisi berdiri
2
4
Mempertahankan keseimbangan ketika berdiri
2
4
Mempertahankan keseimbangan ketika berjalan
2
4
postur
3
4

Perilaku pencegahan jatuh 1909

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
Meminta bantuan
3
4
Menggunakan pegangan tangan seperti yang diperlukan
3
4
Menggunakan alat bantu dengan benar
3
4





Peningkatan Mekanika Tubuh 0140

·         Kaji komitmen pasien untuk belajar dan menggunakan postur tubuh yang benar
·         Kaji pemahaman pasien mengenai mekanika tubuh dan latihan
·         Informasikan pada pasien tentang struktur dan fungsi tulang belakang dan postur yang ooptimal untuk bergerak dan mengunakan tubuh
·         Kolaborasikan dengan fisioterapis dalam mengembangkan peningkatan mekanika tubuh susuai indikasi.

Pencegahan Jatuh 6490
·         Identifikasi  kekurangan baik kognitif atau fisik dari pasien yang mungkin meningkatkan potensi jatuh pada lingkungan tertentu
·         Identifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi resiko jatuh
·         Sediakan alat bantu (misalnya, tongkat dan walker) untuk menyeimbangkan gaya berjalan
·         Dukung pasien untuk menggunakan tongkat atau walker dengan tepat
·         Intruksikan pasien mengenai penggunaan tongkat atau walker dengan tepat.


3.
Hambatan mobilitas fisik b.d  Kerusakan integritas struktur tulang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah hambatan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Ambulasi 0200

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
Menopang berat badan
3
4
Berjalan dengan langkah efektif
2
4
Berjalan dengan pelan
2
4

Pergerakan 0208

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
keseimbangan
2
4
koordinasi
3
4
Cara berjalan
2
4
Gerakan sendi
2
4
Berjalan
2
4
Bergerak dengan mudah
2
4
Terapi Latihan: Ambulasi 0221
·         Monitor penggunaan pasien atau alat bantu berjalan lainnya
·         Terapkan/ sediakan alat bantu (tongkat, walker, atau kursi roda) untuk ambulasi jika pasien tidak stabil
·         Dorong ambulasi independen dalam batas aman
·         Bantu pasien untuk berdiri dan ambulasi dengan jarak tertentu dan dengan sejumlah staf tertentu
·         Intruksikan pasien/caregiver mengenai pemindahan dan tekhnik ambulasi yang aman

Terapi Latihan: Mobilitas Sendi 0224
·         Monitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan ketidaknyamanan selama pergerakan/ aktivitas
·         Inisiasi pengukuran kontrol nyeri sebelum memulai latihan sendi
·         Jelaskan pada pasien atau keluarga manfaat dan tujuan melakukan latihan sendi
·         Bantu pasien mendapatkan posisi tubuh yang optimal untuk pergerakan sendi pasif maupun aktif
·         Dukung latihan ROM aktif, sesuai jadwal yang teratur
·         Lakukan latihan ROM pasif atau ROM dengan bantuan, sesuai indikasi
·         Sediakan petunjuk tertulis untuk melakukan latihan
·         Dukung ambulasi jika memungkinkan
·         Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik dalam mengembangkan dan menerapkan sebuah program latihan.
4
Gangguan citra tubuh b.d  Penyakit (Osteoathritis)
Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan masalah gangguan teratasi diberikan dengan kriteria hasil:

Citra tubuh 1200

Indikator
Outcome
Awal
Akhir
Kepuasan dengan fungsi tubuh
3
4
Penyesuaian terhadap perubahan fungsi tubuh
2
4
Penyesuaian terhadap perubahan status kesehatan
2
4
Penyesuaian terhadap perubahan tubuh akibat proses penuaan
2
4
Peningkatan Citra Tubuh 5220
·         Bantu pasien menetukan keberlanjutan dari perubahan-perubahan aktual dari tubuh atau tingkat fungsinya
·         Bantu pasien mendiskusikan perubahan-perubahan disebabkan oleh penuaan dengan cara yang tepat
·         Ajarkan pada pasien mengenai perubahan-perubahan normal yang terjadi dalam tubuhnya terkait dengan beberapa tahap proses penuaan, dengan cara yang tepat
·         Bantu pasien untuk mendiskusikan stresor yang mempengaruhi citra diri terkait dengan kondisi kongenital, cedera, penyakit atau pembedahan.














LO
1.      Faktor resiko
1.      Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun. Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2.      Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3.      Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit. Pada diabetes melitus, glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun.
4.      Kegemukan atau obesitas
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).
5.      Cedera sendi, pekerjaan dan olah raga (trauma)
6.      Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut.
7.       Kepadatan tulang dan pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.
8.       Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh membran sinovial dan sel-sel radang.

DAFTAR PUSTAKA
NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan Klasifikasi 2015-2017/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan Nike Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.
Gloria, M. B., Howard, K. B., Joanne,M.D., &Cheryl,M,W. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC). Unitited States of America : ISBN : 978-0-323-10011-3
Moorhead, S., Johnson, M., Meridean, L.M.,& Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC).Unitited States of America : ISBN : 978-0-323-10010-6
Ns. Wijaya andra saferi, S.Kep, Ns Putri Yessie Mariza, S.Kep. 2013. KMB 2 ( Keperawatan Medikal Bedah). Yogyakarta: Nuha Medika.
Buku  Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi PROF.Chairuddin Rasjad,MD.,Ph.D.Guru besar ilmubedahfakultas kedoteran universitas hasanuddin,Makasar penerbit Bintang Lamumpatue,Makasar
Auw Yang, K. G., Raijmakers, N. J. H., Verbout, A. J., Dhert, W. J. A, Saris, D. B.F. 2007. Validation of the short-form WOMAC function scale for the evaluation of osteoarthritis of the knee. The Journal of Bone and Joint Surgery. The University Medical Center, Utrecht, Netherlands.
Sjamsuhidayat et.al 2011. Available From:
Koentjoro.2010. Available From:






Tidak ada komentar:

Posting Komentar