LAPORAN
TUTORIAL II
(NERVUS
AND MUSCULOSKELETAL SYSTEM)
Fasilitator:
Rosnita Cici J Idu , S.Kep., Ns
LNO:
Saktya Yudha Ardhi Utama, S.Kep.,Ns.,M.Kep
OLEH
:
1.
AFFIFAH
ARI NIMAH (160100753)
2.
AHMAD
SAID (160100757)
3.
ANGEL CLAUDIA VALENSYA (160100759)
4.
AYUDYA HYGEA BREANI (160100766)
5.
BETY AYU SAFITRI (160100768)
6.
DEVI ALFIANI (160100772)
7.
DWI PRABOWO SUSANTO ( 160100775)
8.
FIKI AJI NURCAHYATI (160100779)
9.
HENI LESTARI (160100785)
10.
IDHAM KHALID (160100787)
11.
IKA BELA APRILIA (160100788)
12.
LAELATUZZAKIYAH (160100794)
BLOCK
NURSING 4
(NERVUS AND MUSCULOSKELETAL SYSTEM)
PROGRAM
STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
ALMA ATA YOGYAKARTA
2018
KASUS TUTORIAL II
SCENARIO
2
Perempuan
berusia 67 tahun dirawat dengan keluhan nyeri dan kaku pada lutut kiri sejak 6
bulan yang lalu terutama di pagi hari, nyeri semakin parah dan disertai dengan
pembengkakan. Nyeri tidak menghilang saat dikompres. Pada pemeriksaan
ekstremitas didapatkan edema pada genu sinistra. Pitting (+), kemerahan (+),
tofus lateralankle dextra (+), massa pada suprapatella sinistra (+) ukuran 3cm
x 2cm, benjolan mobile permukaan rata, undulasi (+), nyeri tekan pada masa pada
suprapatella sinistra (+), krepitasi (+) pada genu sinistra. Foto rontgen
ditemukan adanya gambaran osteofit. Hasil pemeriksaan cairan sendi didapatkan
warna kuning, bekuan positif, sedangkan kristal, eritrosit, dan darah negatif.
Jumlah sel 8-10.
STEP 1 (Kata Sulit)
1. Osteofit
2. Genu
sinistra
3. Krepitasi
4. Benjolan
mobile
5. Undulasi
6. Tofus
7. Pitting
8. Pembengkakan
9. Suprapatella
Jawaban
1. Tulang
yang tumbuh menonjol kearah luar tubuh yang muncul ditempat pertemuan dua
tulang.
2. Genu
sinistra: sendi lutut disebelah kiri.
3. a.
Suara-suara yang dihasilkan dari gesekan-gesekan tulang sendi
b.
terdapat bunyi krek-krek
c.
gesekan antar tulang akibat patah tulang.
4. Adanya
benjolan yang tidak stabil dan dapat berpindah.
5. a.
Gelembung udara yang ada pada selang untuk mengeluarkan cairan pada tubuh.
Contoh:
WSD.
b.
gerakan pada cairan seperti denyutan.
6. Tofus:
kristal yang terbentuk dari asam urat.
7. Pitting:
a. Cekungan/ lekukan
b. edema yang tetap cekung apabila terdapat
tekanan dengan ujung jari
8. a.
Bertambahnya ukuran tidak seperti normalnya (abnormal)
b.
terjadi akibat inflamasi
c.
suatu tanda dari penyakit pada lutut akibat peradangan.
9. Suprapatella:
lutut bagian atas.
STEP 2
1. Apa
penyakit yang ditimbulkan?
2. Etiologi
penyakit?
3. Faktor
resiko penyakit?
4. Apa
komplikasi yang dapat terjadi?
5. Apa
pemeriksaan penunjang yang dilakukan?
6. Apa
terapi farmakologi yang dapat diberikan dari kasus tersebut?
7. Apa
terapi non-farmakologi yang dapat diberikan dari kasus tersebut?
8. Apa
penyebab dari nyeri dan kaku lutut?
9. Tindakan
apa yang harus dilakukan untuk menangani nyeri?
10. Apa
indikasi dan kontraindikasi yang dilakukan pada penyakit dalam kasus?
11. Bagaimana
pencegahan penyakit pada kasus tersebut?
12. Bagaimana
awal terjadinya edema pada genu sinistra dan pitting (+)?
13. Apa
warna normal cairan sendi dan mengapa ada bekuan positif?
14. Diagnosa
keperawatan yang muncul pada kasus?
STEP 3
1. Penyakit
Osteoarthritis, karena pada kasus terdapat ciri-ciri seperti nyeri,
pembengkakan, pitting (+), adanya gambaran osteofit pada foto rontgen, dan
adanya cairan warna kuning pada saat pemeriksaan.
2. Etiologi
: a. Usia
b.
Infeksi virus/ bakteri
c.
Obesitas
d.
Genetik
e.
Pola makan dan gaya hidup
f.
Jenis pekerjaan
g.
Alergi (dingin)
h.
Trauma/ cidera saat beraktivitas
3. Faktor
resiko :
a.
Usia lebih dari 50 tahun
b.
Jenis pekerjaan (mempengaruhi tingkat kekuatan otot yang lebih)
c.
Aktivitas fisik
d.
Jenis kelamin (wanita rentan terkena lebih besar jika melakukan aktivitas berat
misalnya pekerjaan rumah tanggga)
4. Komplikasi: a. Susah bergerak dan kekakuan otot
b.
Resiko jatuh
c.
Resiko patah tulang
d.
Masa otot berkurang
e.
Kelumpuhan
f.
Nyeri hebat dan krepitasi.
5. Pemeriksaan
Penunjang dapat berupa:
a.
CT Scan dan MRI
b.
Tes darah (menentukan adanya infeksi)
c.
Pemeriksaan fisik
d.
Pemeriksaan rontgen dan radiologi.
6. Terapi
farmakologi yang dapat diberikan berupa:
a.
Macam-macam obat analgesik dan anti inflamasi
b.
Suntikan kortikosteroid
c.
PRP (Platelet Rich Plasma untuk peradangan)
7. Terapi
non-farmakologi yang dapat diberikan:
a.
Perubahan gaya hidup
b.
Terapi fisik untuk melatih kekuatan otot sendi (fisioterapi)
c.
Mengurangi berat badan untuk obesitas
d.
Memperbanyak mengkonsumsi kalium pada buah dan sayur (misalnya, buah pisang)
e.
Memperbanyak minum air putih
f.
Menggunakan alat bantu untuk mengurangi rasa nyeri
g.
Terapi pemanas (kompres air hangat)
8. Penyebab
dari nyeri yaitu karena adanya osteofit sedangkan dari kaku di
lutut karena gerakan lutut sedikit karena menahan rasa nyeri.
9. Tindakan
untuk menangani nyeri:
a.
Mengkonsumsi obat analgesik
b.
Kompres air hangat
c.
Menggunakan alat bantu
d.
Mengkaji nyeri
f.
Terapi tekhnik relaksasi nafas dalam
g.
Mengurangi aktivitas fisik yang berat.
10. a.
Indikasi : latihan gerak dengan alat bantu
b.
Kontraindikasi : - melakukan tindakan/ pekerjaan yang berat
- tidak mengkonsumsi
obat yang dapat menyebabkan pengeroposan tualng dan sendi
11. Pencegahan
dari penyakit osteoartrithis yaitu:
a.
Mengurangi makanan yang tinggi purin
b.
Olahraga teratur
c.
Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C dan D
d.
Menurunkan berat badan bagi yang obesitas
12. Terjadi
edema karena adanya peradangan dan pengumpulan cairan didalam sendi.
13. a.
Warna normal putih bening, karena adanya infeksi dan cairan yang berada tidak
pada tempatnya sehingga terjadinya pembekuan tersebut.
14. Masalah
keperawatan yang muncul:
a.
Gangguan rasa nyaman b.d agen cidera biologis
b.
Gangguan mobilitas fisik
c.
Resiko infeksi
STEP 4
|
![]() |
|||
![]() |
|||
|
|
STEP 5
LO
1. Faktor
resiko dari Osteoarthritis
A.
Konsep
1.
Definisi
Osteoatritis adalah penyakit peradangan sendi yang
muncul pada usia lanjut , penyakit ini jarang di jumpai pada usia dibawah 40
tahun dan lebih sering di jumpai pada usia 60 tahun keatas.sehingga akan
terjadi gangguan pada sendi anggota
gerak (price dan wilson, 2013).
Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani
yaitu osteo yang berarti tulang, arthro yang berarti sendi, dan itis yang
berarti inflamasi meskipun sebenarnya penderita osteoartritis tidak mengalami
inflamasi atau hanya mengalami inflamasi ringan (Koentjoro, 2010).
Osteoarthritis suatu penyakit sendi menahun yang ditandai
oleh adanya kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di
dekatnya. Tulang rawan (kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi ujung
dari tulang, untuk memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan pada kartilago
akan berakibat tulang bergesekan satu sama lain, sehingga timbul gejala
kekakuan, nyeri dan pembatasan gerakan pada sendi (Nur, 2009).
Osteoartrithis adalah kelainan sendi
kronis yang disebabkan karena ketidakseimbangan sistesis dan degradasi pada
sendi kondrosit serta tulang subkondral pada usia tua (Sjamsuhidayat et.al
2011)
2. Etiologi
Berdasarkan etiopatogenesisnya OA
dibagi menjadi dua, yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA
idiopatikyang mana penyebabnya tidak diketahui dan tidak ada hubunganya dengan
penyakit sistemik, inflamasi ataupun perubahan lokal pada sendi, sedangkan OA
sekundermerupakan OA yang ditengarai oleh faktor-faktor seperti penggunaan
sendi yang berlebihan dalam aktifitas kerja, olahraga berat, adanya cedera
sebelumnya, penyakit sistemik, inflamasi. OA primer lebih banyak ditemukan
daripada OA sekunder (Davey, 2006).
A.
Umur
Umumnya ditemukan pada usia lanjut ( di atas 50
tahun ),oleh karena pada orang lanjut usia pembentukankondroitin sulfat yang
merupakan substansi dasar tulang rawan berkurang dan dapat terjadi fibrosis
tulangrawan.
B.
Jenis kelamin
Kelainan ini dapat ditemukan baik pada pria maupun wanita dimana
osteoarthritis primer lebih banyakditemukan pada wanita pascamenopause
sedangkan osteoarthritis sekunder lebih banyak ditemukan pada laki- laki.
C.
Kepadatan tulang
D.
Obesitas
E.
Penggunaan aktivits sendi yang
berlebihan saat bekerja atau aktivitas
F.
Olahraga berat
G.
Riwayat keluarga /keturunan
H.
Cidera sendi
I.
Adanya penyakit lain:asam urat
reumaticatritis
3. Manifestasi klinis
Menurut
Sudoyono 2009
1) Kekakuan
dari persendian setelah bangundari tidur atau duduk dalam keadaan yang lama. Kebanyakan
penderita mengeluh kaku setelah berdiam pada posisi tertentu. Kaku biasanya
kurang dari 30 menit.
2) Bengkak pada
satu atau lebih persendian
Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh
radang sendi dan bertambahnya cairan sendi atau keduanya.
3) Kemerahan
pada daerah sendi
Kemerahan pada sendi merupakan salah
satu tanda peradangan sendi. Hal ini mungkin dijumpai pada osteoarthritis
karena adanya sinovitis, dan biasanya tanda kemerahan ini tidak menonjol dan
timbul belakangan.
4) Terdengar
bunyi krepitasiketika persendian digerakkan
5) Nyeri
Nyeri sendi bertambah dikarenakan
gerakan dan sedikit berkurang bila istirahat. Pada gerakan tertentu (misal
lutut digerakkan ke tengah) menimbulkan rasa nyeri. Nyeri pada osteoarthritis
dapat menjalar kebagian lain, misal osteoarthritis pinggang menimbulkan nyeri
betis yang disebut sebagai “claudicatio intermitten”. Korelasi antara nyeri dan
tingkat perubahan struktur pada osteoarthritis sering ditemukan pada panggul,
lutut dan jarang pada tangan dan sendi apofise spinalis.
6)
Hambatan gerakan sendi (inability to move a
joint)
Hambatan gerak
ini disebabkan oleh nyeri, inflamasi, sendi membengkok, perubahan bentuk.
Hambatan gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari kursi, bangun
dari tempat berbaring, menulis atau berjalan. Semua gangguan aktivitas
tergantung pada lokasi dan beratnya kelainan sendi yang terkena.
7)
Perubahan cara berjalan atau hambatan gerak
Hambatan gerak atau perubahan cara berjalan akan
berkembang sesuai dengan beratnya penyakit. Perubahan yang terjadi dapat
konsentris atau seluruh arah gerakan maupun eksentris atau salah satu gerakan
saja
4.
Komplikasi
a)
Gangguan /kesulitan gerak
b)
Kelumpuhan yang menurunkan kualitas hidup penderita
c)
Resiko jatuh
d)
Patah tulang
e)
Osteonekrosis: kematian sendi
f)
Ruptur Baker Cyst
g)
Bursitis
Pembengkakan
atau pearadangan yang terjadi pada bursa, kantong berisi cairan pelumas yang
terletak disekitaran sendi yang berfungsi sebagai bantalan untuk mengguragi
gesekan atau iritasi
5. Patofisiologi
Perkembangan osteoarthritis terbagi atas tiga fase,
yaitu sebagai berikut:
1. Fase 1
Terjadi
penguraian proteolitik pada matrik kartilago. Metabolismekondrosit menjadi
terpangaruh dan meningkatkan produksi enzim seperti metalloproteinases yang
kemudian hancur dalam matriks kartilago. Kondrosit juga memproduksi penghambat
protease yang akan mempengaruhi proteolitik. Kondisi ini memberikan manifestasi
pada penipisan kartilago.
2. Fase 2
Pada fase
ini terjadi fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, disertai adanya
pelepasan proteoglikan dan fragmen kolagen ke dalam cairan sinovia.
3. Fase 3
Proses
penguaraian dari produk kartilago yang menginduksi respon inflamasi pada
sinovia. Produksi makrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL 1), tumor necrosis
factor-alpha (TNFα), dan metalloproteinases menjadi meningkat. Kondisi ini
memberikan manifestasi balik pada kartilago dan secara langsung memberikan
dampak destruksi pada kartilago. Molekul-molekul pro-inflamasi lainnya seperti
nitric oxide (NO) juga terlibat. Kondisi ini memberikan manifestasi perubahan
arsitektur sendi, dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan tulang akibat
stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi dan stres inflamasi memberikan
pengaruh pada permukaan artikular menjadikan kondisi gangguan yang
progresif(Helmi, 2012)
6.
Pemeriksaan
Penunjang
a. Pemeriksaan
radiografi pada sendi akan memberikan gambaran diagnostik
Penyempitan celah sendi
yang asimetris
Osteofitpada pinggir
tulang
Perubahan struktrur
anatomi sendi
b.
Bone Scanning
Metode ini mungkin membantu dalam
diagnosis awal osteoarthritis tangan. Selain itu, metode ini juga dapat
membantu membedakan osteoarthritis dari osteomyelitis dan metastase tulang
(Lozada, 2013).
c.
Arthrocentesis
Kehadiran cairan sendi peradangan
membantu membedakan osteoarthritis dari penyebab lain dari nyeri sendi. Selain
temuancairan sinovial yang membantu dalam diferensiasi osteoarthritis dari
kondisi lain adalah adanya gram negatif serta tidak adanya kristal ketika
dilihat dibawah mikroskop (Lozada, 2013).
7. Terapi farmakologi
Menurut Elin
dkk, 2008:
A.
Nonsteroididal anti inflamatory drugs (NSAID) yaitu
obat yang digunakan untuk menggurangi nyeri dan peradangan pada sendi. Contoh :
ibuprofen, aspirin
B.
Analgetik . contoh: tramadol
C.
Obat relaksasi otot
D.
Injeksi glukokortikoid intraartikular
E.
Kortikosteroid
Kortikosteroid berfungsi sebagai anti inflamasi dan
digunakan dalam dosis yang beragam untuk berbagai penyakit dan beragam
individu, agar dapat dijamin rasio manafaat dan risiko setinggi tingginya.
Kortikosteroid sering diberikan dalam bentuk injeksi intra-artikular
dibandingkan dengan penggunaan oral.
F.
Suplemen makanan
Pemberian suplemen makanan yang mengandung glukosamin,
kondroitin yang berdasarkan uji klinik dapat mengurangi gangguan sendi atau
mengurangi simptom osteoarthritis (Priyanto, 2008). Suplemen makanan ini dapat
digunakan sebagai obat tambahan pada penderita osteoarthritis terutamanya
diberikan pada pasien lanjut usia.
G. ChondroprotectiveAgent
Chondroprotective Agent adalah obat–obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan dari kartilago pada pasien OA. Obat–obatan yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya (Felson, 2006).
Chondroprotective Agent adalah obat–obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan dari kartilago pada pasien OA. Obat–obatan yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya (Felson, 2006).
§ Tetrasiklin
dan derivatnya, contohnya doxycycline, mampu menghambat kerja enzim MMP. Obat
ini baru dipakai pada hewan, belum dipakai pada manusia.
§ Asam
hialuronat disebut viscosupplement karena dapat memperbaiki viskositas cairan
sinovial. Obat ini diberikan secara intraartikular. Asam hialuronat berperan
penting dalam pembentukan matriks tulang rawan melalui agregasi dengan
proteoglikan.Pada binatang percobaan, obat ini dapat mengurangi inflamasi pada
sinovium, menghambat angiogenesis dan kemotaksis sel-sel inflamasi.
§ Glikosaminoglikan
dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam degradasi tulang rawan dan
merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan
sendi manusia.
§ Kondroitin
sulfat, merupakan bagian dari proteoglikan pada tulang rawan sendi. Tulang
rawan sendi terdiri atas 2% sel dan 98% matriks ekstraseluler yang terdiri dari
kolagen dan proteoglikan. Matriks ini membentuk struktur yang utuh sehingga
mampu menahan beban tubuh. Pada penyakit sendi degeneratif seperti OA terjadi
kerusakan tulang rawan sendi dan salah satu penyebabnya adalah hilangnya atau
berkurangnya proteoglikan. Efektivitas kondroitin sulfat melalui 3 mekanisme
utama, yaitu anti inflamasi, efek metabolik terhadap sintesis hialuronat dan
proteoglikan serta anti degradatif melalui hambatan enzim proteolitik dan
menghambat efek oksigen reaktif.
§ Vitamin
C, dapat menghambat aktivitas enzim lisozim. Dalam penelitian ternyata
bermanfaat dalam terapi OA.
8. Terapi Non farmakologi
1)
Dilarang naik turun tangga
2)
Dilarang angkat beban berat
3)
Lakukan diet sehat
4)
Turunkan berat badan bagi yang obesitas
5)
Istirahat yang cukup untuk menurunkan
kesakitan pada sendi dan menghindari
trauma sendiri secara berulang
6) Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian
panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang
diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi
yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai
sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator,
bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari
pancuran panas.Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan
memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometrik lebih
baik dari pada isotonik karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan
sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena
berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot
periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari
beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
7)
Olahraga mengurangi gejala dan
meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami osteoarthritis ringan sampai
sedang
8)
Terapi fisik, meliputi rentang
pergerakan pasif dan latihan air, dapat memperbaiki fungsi persendian
|
|

|
|
|
|

|
|

|
|
|

|
|
|

|
|
|
|
|
|
|
|

|
|
1.
Asuhan
Keperawatan
A.
Analisis
Data
|
No.
|
Analisa Data
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Etiologi
|
|
1.
|
DS :
- Pasien mengeluh nyeri dan kaku pada lutut kiri sejak bulan yang lalu.
- pasien mengatakan nyeri semakin parah di pagi hari
dan disertai pembengkakan
- pasien mengatakan nyeri tidak hilang saat dikompres
DO :
- Edema pad grnu sinistra (+)
- Terdapat massa
pada suprapatella sinistra (3cmx 2cm)
- Adanya nyeri
tekan pada suprapatella sinistra.
|
Nyeri kronis
|
Penyakit (Osteoathritis)
|
|
2.
|
DS:
Pasien meneluh kaku pada lutut kiri dan nyeri
disertai bengkak
DO:
-Edema di genu sinistra(+)
-Massa pada suprapattela sinistra(+)
ukuran 3-2cm
-Nyeri tekan pada massa suprapattela
|
Resiko jatuh
|
Usia > 65 tahun
|
|
3.
|
DS
:- pasien meneluh kaku pada lutut kiri
DO
:- terdapat krepitasi
- cairan sndi didapatkan warna kuning
- terdapat
edema pada genu sinistra
|
Hambatan mobilitas fisik
|
Kerusakan integritas struktur tulang
|
|
4
|
DS :
- pasien mengatakan adanya pembengkakan pada lutut
kiri
DO:
-Terdapat undulasi
-Edema di genu sinistra(+)
-Massa pada suprapattela sinistra(+)
ukuran 3-2cm
-Kemerahan tofus lateral ankle
dextra(+)
|
Gangguan citra tubuh
|
Penyakit (Osteoathritis)
|
B.
Rencana Keperawatan
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Nursing
Outcome (NOC)
|
Nursing
Intervention (NIC)
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1
|
Nyeri kronis
b.d penyakit (Osteoathritis)
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
masalah nyeri kronis dapat teratasi dengan kriteria hasil:
Kontrol Nyeri 1605
Status kenyamanan fisik
2010
|
Manjemen Nyeri 1400
·
Monitor TTV
·
Kaji nyeri komprehensif yang meliputi
lokasi,karakteristik, onset/durasi,frekuensi,kualitas,intensitas atau
beratnya nyeri dan faktor pencetus.
·
Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat
menurunkan atau memperberat nyeri.
·
Berikan informasi nyeri mengenai nyeri,seperti
penyebabnyeri,berapa lama nyeri akan dirasakan dan antisipasi dari
ketidaknyamanan akibat prosedur.
·
Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
Pengaturan Posisi 0840
·
Tempatkan pasien diatas matras/ tempat tidur
terapeutik
·
Tempatkan pasien dalam posisi terapeutik yang
sudah dirancang
·
Masukkan posisi tidur yang diinginkan kedalam
rencana perawatan jika tidak ada kontraindikasi
·
Imobilisasi atau sokong bagian tubuh yang terkena
dampak dengan tepat
·
Dorong latihan ROM aktif dan pasif
·
Jangan menempatkan pasien pada posisi yang bisa
meningkatkan nyeri
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2
|
Resiko jatuh b.d Usia > 65 tahun
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
masalah resiko jatuh dapat teratasi dengan kriteria hasil :
Keseimbangan 0202
Perilaku pencegahan jatuh
1909
|
Peningkatan Mekanika Tubuh 0140
·
Kaji komitmen pasien untuk belajar dan menggunakan
postur tubuh yang benar
·
Kaji pemahaman pasien mengenai mekanika tubuh dan
latihan
·
Informasikan pada pasien tentang struktur dan
fungsi tulang belakang dan postur yang ooptimal untuk bergerak dan mengunakan
tubuh
·
Kolaborasikan dengan fisioterapis dalam
mengembangkan peningkatan mekanika tubuh susuai indikasi.
Pencegahan Jatuh 6490
·
Identifikasi
kekurangan baik kognitif atau fisik dari pasien yang mungkin
meningkatkan potensi jatuh pada lingkungan tertentu
·
Identifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi
resiko jatuh
·
Sediakan alat bantu (misalnya, tongkat dan walker)
untuk menyeimbangkan gaya berjalan
·
Dukung pasien untuk menggunakan tongkat atau
walker dengan tepat
·
Intruksikan pasien mengenai penggunaan tongkat
atau walker dengan tepat.
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.
|
Hambatan
mobilitas fisik b.d Kerusakan
integritas struktur tulang
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
masalah hambatan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteria hasil :
Ambulasi 0200
Pergerakan 0208
|
Terapi Latihan: Ambulasi 0221
·
Monitor penggunaan pasien atau alat bantu berjalan
lainnya
·
Terapkan/ sediakan alat bantu (tongkat, walker,
atau kursi roda) untuk ambulasi jika pasien tidak stabil
·
Dorong ambulasi independen dalam batas aman
·
Bantu pasien untuk berdiri dan ambulasi dengan
jarak tertentu dan dengan sejumlah staf tertentu
·
Intruksikan pasien/caregiver mengenai pemindahan
dan tekhnik ambulasi yang aman
Terapi Latihan: Mobilitas Sendi 0224
·
Monitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan
ketidaknyamanan selama pergerakan/ aktivitas
·
Inisiasi pengukuran kontrol nyeri sebelum memulai
latihan sendi
·
Jelaskan pada pasien atau keluarga manfaat dan
tujuan melakukan latihan sendi
·
Bantu pasien mendapatkan posisi tubuh yang optimal
untuk pergerakan sendi pasif maupun aktif
·
Dukung latihan ROM aktif, sesuai jadwal yang
teratur
·
Lakukan latihan ROM pasif atau ROM dengan bantuan,
sesuai indikasi
·
Sediakan petunjuk tertulis untuk melakukan latihan
·
Dukung ambulasi jika memungkinkan
·
Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik dalam
mengembangkan dan menerapkan sebuah program latihan.
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
4
|
Gangguan citra tubuh b.d Penyakit (Osteoathritis)
|
Setelah
dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan masalah gangguan teratasi
diberikan dengan kriteria hasil:
Citra tubuh 1200
|
Peningkatan Citra Tubuh 5220
·
Bantu pasien menetukan keberlanjutan dari
perubahan-perubahan aktual dari tubuh atau tingkat fungsinya
·
Bantu pasien mendiskusikan perubahan-perubahan
disebabkan oleh penuaan dengan cara yang tepat
·
Ajarkan pada pasien mengenai perubahan-perubahan
normal yang terjadi dalam tubuhnya terkait dengan beberapa tahap proses
penuaan, dengan cara yang tepat
·
Bantu pasien untuk mendiskusikan stresor yang
mempengaruhi citra diri terkait dengan kondisi kongenital, cedera, penyakit
atau pembedahan.
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
LO
1. Faktor
resiko
1. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah
yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan
bertambahnya umur. Osteoartritis
hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering
pada umur diatas 60 tahun. Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan
dengan bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan
endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan
dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas
50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal
ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam
proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak
sifat fisik rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit. Pada diabetes
melitus, glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun.
4. Kegemukan atau obesitas
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan
meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis
baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan
dengan osteoartritis pada sendi
yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis
sendi lain (tangan atau sternoklavikula).
5.
Cedera
sendi, pekerjaan dan olah raga (trauma)
6.
Kegiatan
fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan
kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut.
7.
Kepadatan tulang dan pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan
secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu
pengikisan dan proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.
8.
Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis)
menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi
oleh membran sinovial dan sel-sel radang.
DAFTAR
PUSTAKA
NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan
Klasifikasi 2015-2017/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made
Sumarwati, Dan Nike Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah
Bariid, Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.
Gloria, M. B., Howard, K. B.,
Joanne,M.D., &Cheryl,M,W. (2013). Nursing
Interventions Classification (NIC). Unitited States of America : ISBN :
978-0-323-10011-3
Moorhead, S., Johnson, M., Meridean,
L.M.,& Swanson, E. (2013). Nursing
Outcomes Classification (NOC).Unitited States of America : ISBN :
978-0-323-10010-6
Ns.
Wijaya andra saferi, S.Kep, Ns Putri Yessie Mariza, S.Kep. 2013. KMB 2 (
Keperawatan Medikal Bedah). Yogyakarta: Nuha Medika.
Buku
Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi PROF.Chairuddin Rasjad,MD.,Ph.D.Guru
besar ilmubedahfakultas kedoteran universitas hasanuddin,Makasar penerbit
Bintang Lamumpatue,Makasar
Auw
Yang, K. G., Raijmakers, N. J. H., Verbout, A. J., Dhert, W. J. A, Saris, D.
B.F. 2007. Validation of the short-form WOMAC function scale for the evaluation
of osteoarthritis of the knee. The Journal of Bone and Joint Surgery. The
University Medical Center, Utrecht, Netherlands.
Sjamsuhidayat
et.al 2011. Available From:
Koentjoro.2010.
Available From:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar